Keberhasilan Teknik Pengasuhan Anak Melalui Tiger Parenting

Sudah menjadi rahasia umum bahwa etnis Tionghoa dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin bekerja. Kualitas ini tercermin dalam kekuatan ekonomi China, yang saat ini menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, serta prestasi mereka di bidang pendidikan.

Keberhasilan etnis Tionghoa dalam dua aspek kunci ini bukanlah hasil dari upaya semalam. Ada proses panjang di dalamnya, termasuk pola asuh atau parenting yang berperan penting dalam membentuk karakter pejuang anak-anak mereka.

Pengasuhan Ibu Harimau

Pola asuh ini dikenal sebagai Pengasuhan Ibu Harimau, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh profesor Hukum Yale, Amy Chua, dalam bukunya yang berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother.”

Menurut laporan terbaru dari Biro Sensus AS, meskipun orang Tionghoa Amerika hanya menyumbang 5 persen dari populasi AS, mereka mencapai 20 persen dari populasi Ivy League, sebuah komunitas akademik bergengsi di Amerika Serikat. Model pengasuhan ini dapat memberikan inspirasi bagi Indonesia.

Metode Tiger Parenting: Antara Keras dan Penuh Dukungan Emosional

Tiger parenting, atau pengasuhan gaya harimau, telah menjadi perbincangan hangat dalam lingkup pendidikan dan peran orangtua. Metode ini dikenal dengan pendekatan yang keras dan otoriter secara terang-terangan. Gaya pengasuhan semacam ini kerap kali terlihat dingin, menuntut, dan kurang memberikan dukungan emosional yang memadai. Salah satu figur yang menjadi tokoh utama dalam praktik tiger parenting adalah Chua, yang dengan bangga mendeskripsikan dirinya sebagai Tiger Mom.

Dalam penerapannya, Chua dan para praktisi tiger parenting lainnya mengadopsi pendekatan yang sangat tegas. Mereka melarang anak-anaknya untuk menonton televisi, bermain game komputer, menginap, berkencan, atau bahkan mendapatkan nilai di bawah A. Pesan yang diusungnya adalah bahwa kesuksesan akademik adalah tujuan utama yang harus dicapai dengan segala cara, bahkan jika itu berarti mengorbankan waktu bermain dan memberlakukan kelonggaran lainnya untuk anak.

Namun, perlu dicatat bahwa tiger parenting memiliki perbedaan mendasar dengan pendekatan otoriter parenting. Menurut American Psychological Association (APA), tiger parenting melibatkan pola asuh yang mencakup unsur positif dan negatif pada tingkat yang tinggi secara bersamaan. Ini mencakup kombinasi aturan yang ketat dengan pemberian kehangatan dan dukungan penuh dari orangtua terhadap anak-anak mereka.

Para praktisi tiger parenting, baik ibu maupun ayah, dikenal menerapkan strategi pengasuhan yang menggabungkan unsur positif dan negatif secara seimbang. Hal ini menciptakan lingkungan di mana anak-anak merasa didukung secara emosional sambil tetap memiliki batasan yang jelas.

Meskipun kontroversial, metode tiger parenting tetap menjadi subjek penelitian dan diskusi yang relevan dalam konteks pendidikan dan perkembangan anak-anak. Penting bagi orangtua untuk memahami bahwa memberikan dukungan emosional yang cukup dan menerapkan batasan yang sehat adalah kunci dalam membimbing anak-anak menuju kesuksesan.

Ciri Pengasuhan Khas

Berikut adalah beberapa ciri pengasuhan khas etnis Tionghoa yang dapat diadopsi:

1. Mendorong Kesempurnaan Diri

Orangtua Tionghoa meyakini bahwa mencapai kesempurnaan diri adalah hal yang baik. Dengan latihan yang konsisten, anak-anak didorong untuk mencapai potensi penuh mereka, baik dalam bidang akademis maupun kegiatan ekstrakurikuler.

2. Pelit dengan Pujian

Pujian diberikan hanya untuk pencapaian yang benar-benar luar biasa. Dengan cara ini, anak-anak belajar untuk selalu mengejar kesempurnaan dan mencapai tujuan mereka tanpa mengandalkan pujian yang berlebihan.

3. Tahan Rasa Malu

Penggunaan rasa malu sebagai alat untuk mencegah kegagalan dapat memberikan dorongan tambahan untuk mencapai kesuksesan. Namun, penting untuk memastikan bahwa anak tetap memiliki harga diri yang sehat.

4. Tunjukkan Bahwa Kerja Keras Menyenangkan

Etnis Tionghoa menekankan bahwa imbalan dari kerja keras adalah keahlian. Ini membantu anak-anak memahami bahwa tidak ada yang menyenangkan hingga mereka mahir melakukannya.

5. Atur Waktu Belajar

Menetapkan waktu belajar yang konsisten dan mendorong semangat kerja keras dapat meningkatkan produktivitas dan prestasi akademis anak-anak.

6. Jangan Biarkan Mereka Menyerah

Mendorong ketekunan dan ketahanan terhadap kegagalan adalah kunci untuk membangun kepercayaan diri anak. Menurut Amy Chua, membiarkan anak menyerah adalah salah satu hal terburuk yang dapat dilakukan oleh orangtua.

7. Dorong Persaingan

Mengajarkan anak untuk bersaing secara sehat dapat membantu mereka mengembangkan keunggulan dalam berbagai bidang.

Kesimpulan

Melalui prinsip ATM (amati, tiru, modifikasi), orangtua Indonesia dapat mempertimbangkan untuk mengadopsi sebagian ciri pengasuhan dari etnis Tionghoa. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta generasi unggul yang mampu bersaing ditingkat global, sebagaimana yang telah diterapkan oleh bangsa Tiongkok pada generasi muda mereka.

Scroll to Top