Anak Jadi Korban Bullying, Begini yang Harus Dilakukan Orang Tua 

Rasa sakit yang mendalam menghantui hati orang tua saat mengetahui anak mereka menjadi sasaran perilaku bullying dari teman-temannya. Terlebih lagi, jika perundungan itu ternyata telah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Perasaan yang sama seharusnya dirasakan pula oleh orang tua dari anak-anak pelaku bullying. Bagaimana mungkin mereka tidak merasa kecewa mengetahui anak mereka berperilaku buruk pada anak lain?

Namun demikian, saat nasi telah menjadi bubur, yang terpenting adalah langkah apa yang harus diambil oleh orang tua ketika perundungan telah terjadi.

Hanlie Muliani, M.Psi, seorang psikolog klinis yang juga seorang aktivis dalam pencegahan perundungan, menyatakan bahwa penyelesaian masalah perundungan membutuhkan kolaborasi antara orang tua dan pihak terkait, seperti sekolah. 

Menurutnya, penting untuk dicatat bahwa penyelesaian masalah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua korban, tetapi juga orang tua dari pelaku.

Dampak Negatif: Orang Tua Saling Menyalahkan

Mengutip laman Parenting, Hanlie menjelaskan bahwa tidak jarang kasus perundungan yang dialami oleh anak-anak justru berdampak pada konflik antara kedua orang tua yang terlibat. “Orang tua korban umumnya merasa tidak terima dengan perlakuan buruk yang diterima oleh anak mereka dari pelaku,” ujarnya. Kadang-kadang, dengan penuh emosi, orang tua korban bahkan menjelek-jelekkan keluarga pelaku, bukan hanya membahas perilaku anak pelaku bullying.

Di sisi lain, orang tua pelaku seringkali tidak menyadari bahwa mereka justru menggunakan mekanisme pertahanan dengan mengelak atau bahkan membenarkan tindakan anak mereka. Kalimat seperti, “Semua anak-anak melakukan hal yang sama,” atau “Ini hal yang biasa terjadi,” seringkali terdengar dari mulut orang tua pelaku.

Menurut Hanlie, orang tua pelaku mungkin tidak siap menerima kenyataan bahwa anak mereka melakukan perilaku yang buruk. “Mereka mungkin merasa malu dan akhirnya membela anak mereka,” paparnya.

Hal ini bisa berujung pada saling menyalahkan antara kedua orang tua. Orang tua pelaku mungkin akan menjadi sasaran ejekan karena dianggap tidak mampu mendidik anak dengan baik sehingga anak mereka melakukan perundungan. Di sisi lain, orang tua korban juga bisa mendapat ejekan karena dianggap terlalu memihak pada anak yang dianggap ‘lemah’.

Tindakan yang Dapat Dilakukan saat Terjadi Bullying pada Anak

Setelah mengetahui bahwa anak Anda menjadi korban atau pelaku perundungan, Hanlie merekomendasikan langkah-langkah berikut:

Bagi Orang Tua Korban

1. Tidak Mengajarkan Balas Dendam

Hanlie sangat menyarankan agar orang tua tidak mengajarkan balas dendam kepada anak ketika menghadapi tindakan perundungan. “Balas dendam umumnya dianggap lebih kejam. Anak-anak belum memiliki pemahaman yang cukup untuk memahami konsep tersebut dengan benar, yang bisa justru menimbulkan masalah,” ujarnya. Yang perlu ditekankan adalah konsep membela diri, bukan membalas.

2. Dengarkan Anak

Selalu dengarkan anak dan validasi perasaan mereka. Buatlah mereka merasa dicintai dan dipahami oleh Anda. Hindari kesalahan mendengarkan cerita anak yang bisa membuat mereka trauma.

3. Dukung Anak

Berikan dukungan secara emosional kepada anak. Beritahukan kepada mereka tentang kelebihan yang seharusnya mereka hargai. Buatlah mereka menyadari bahwa mereka berharga. Tetaplah berada di samping mereka dan jadikan diri Anda sebagai tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencari kenyamanan dan keamanan.

Bagi Orang Tua Pelaku

1. Terima dan Tidak Membenarkan

Terimalah kenyataan bahwa anak Anda telah melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Janganlah membenarkan tindakan tersebut. Hal ini hanya akan memperkuat keyakinan anak Anda bahwa tindakannya tidak akan memiliki dampak buruk.

2. Klarifikasi dan Evaluasi

Bicaralah dengan pihak yang terlibat, seperti guru jika perundungan terjadi di sekolah. Kumpulkan data tentang tindakan yang dilakukan anak Anda dan evaluasilah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Lakukan refleksi apakah perilaku anak tersebut mungkin terpengaruh oleh lingkungan atau kebiasaan yang ada di rumah.

3. Bangun Kedekatan dengan Anak

Bangun kedekatan dengan anak dan dengarkan pendapat mereka mengenai tindakan yang telah dilakukan. Ketahui bagaimana cara agar anak dapat terbuka dengan Anda.

4. Lakukan Introspeksi Diri

Setelah mendengarkan pendapat anak, lakukan introspeksi diri dan analisislah apa yang mendorong anak Anda melakukan perundungan. Salah satu penyebab anak menjadi pelaku perundungan adalah pengaruh dari orang tua yang sering membanding-bandingkan atau kurang memperhatikan kebutuhan emosional anak.

5. Ubah Cara Berpikir Anak

Bantu anak Anda untuk memahami dan menerima perbedaan sebagai hal yang biasa. Ajarkan mereka untuk berempati. Anda bisa menggunakan perumpamaan dalam berbicara dengan anak untuk menjelaskan konsep-konsep ini.

6. Kolaborasi dengan Sekolah

Segera berkoordinasi dengan sekolah untuk menyelesaikan masalah ini.

Dengan kerjasama antara orang tua, sekolah, dan pihak terkait lainnya, diharapkan perundungan dapat diatasi secara efektif sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Pentingnya Mengatasi Bullying: Langkah-langkah Praktis untuk Orang Tua

Bullying atau perundungan, dalam segala bentuknya, dari ujaran verbal hingga tindakan fisik, memiliki dampak yang merugikan. Anak-anak yang menjadi korban bullying cenderung kehilangan konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri.

Menanggapi hal ini, Hanlie Muliani, M.Psi, seorang psikolog klinis pendiri Sahabat Orangtua & Anak yang juga seorang aktivis dalam pencegahan perundungan, menggarisbawahi bahwa dampak dari perundungan tidak akan hilang dengan sendirinya dan dapat berlanjut dalam jangka waktu yang lama jika tidak ditangani dengan tepat. Anak-anak yang menjadi korban perundungan seringkali merasa terisolasi dan bisa mengalami depresi.

Hanlie menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah anak-anak mereka menjadi korban perundungan. Sebagai langkah preventif, Hanlie menyarankan beberapa tindakan praktis yang dapat diterapkan orang tua untuk melatih anak-anak mereka agar tahan terhadap tindakan perundungan:

1. Ajarkan Berani Berkata Tidak

Anak perlu diajarkan untuk berani menolak perlakuan atau perkataan yang membuatnya tidak nyaman. Orang tua harus secara terus-menerus mengingatkan anak-anak tentang batasan perlakuan yang pantas mereka terima dari teman-temannya. Dengan demikian, anak-anak akan memiliki keberanian untuk menolak saat mereka merasa diperlakukan tidak baik.

2. Latih Sikap Asertif

Lingkungan yang terbuka akan membantu anak-anak dalam menyampaikan pikiran dan perasaan mereka. Sikap asertif ini akan melindungi mereka dari perundungan yang berkelanjutan. Anak-anak perlu diajarkan untuk menyampaikan keberatannya ketika ada teman yang menunjukkan perilaku yang mencurigakan.

3. Bantu Anak Mencintai Diri Sendiri

Pembangunan rasa percaya diri akan membantu anak-anak menerima diri mereka sendiri. Ini akan membuat mereka lebih tahan terhadap perlakuan yang merendahkan.

4. Jangan Remehkan Keluhan Anak

Orang tua harus serius menanggapi keluhan anak tentang masalah di sekolah. Jangan meremehkan keluhan anak, karena hal ini dapat membuat mereka merasa tidak dihargai dan lebih terpapar terhadap perundungan.

5. Bangun Hubungan yang Kuat

Fondasi hubungan yang kuat antara orang tua dan anak sangat penting. Orang tua harus memahami kebutuhan anak dan memberikan dukungan serta masukan yang dibutuhkan.

6. Kembangkan Keterampilan Sosial

Anak-anak perlu dilatih dalam keterampilan sosial agar dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Keterampilan ini akan membantu mereka untuk terhindar dari perundungan.

7. Pantau Penggunaan Internet

Dengan perkembangan teknologi, perundungan dapat terjadi secara online. Orang tua harus terus mendampingi anak-anak dalam menggunakan internet dengan bijak dan memastikan mereka memahami etika penggunaan internet yang baik.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, diharapkan orang tua dapat membantu anak-anak untuk menjadi lebih tangguh dan terhindar dari ancaman perundungan. Langkah preventif ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak.

Scroll to Top